METODE
PENULISAN ILMIAH
JURNAL
ILMIAH
DAMPAK
MODERNISASI KEKUATAN MILITER CINA BAGI JEPANG

WAYAN YULIA
SWADEVI
1321105006
PROGRAM STUDI HUBUNGAN
INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU
SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS
UDAYANA
2014
DAMPAK MODERNISASI KEKUATAN MILITER
CINA BAGI JEPANG
Wayan
Yulia Swadevi
1321105006
Program
Studi Hubungan Internasional
Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas
Udayana
ABSTRACT
This
paper tells about the impact of the China’s military modernization for the
Asia-Pacific region, especially for Japan. China as a great state surely has
initiative to strengthen the stability of their national defense, and for this
China build strong military capability and then evoke major threat for Japan.
The strategy of China raises security dilemma for Japan, so Japan also
strengthen their defense and create balance of power. The method that writer
used to analyze this paper is with literature review from some data source. From
that case, the reasons that China have to underlying their military
modernization are the shift of China defense thinking, the implication of
balancing strategy in the region, and Japan respond the threat with their
defense policy through implemented the National Defense Program Guidelines
(NDPG).
Keywords: military modernization, stability, security
dilemma, balance of power, China defense thinking, balancing strategy, defense
policy, NDPG.
1.
PENDAHULUAN
Jepang
dan Cina merupakan dua negara besar yang terletak di benua Asia yang sebenarnya
adalah satu rumpun dan memiliki pertalian kebudayaan yang kuat. Banyak
tradisi-tradisi Jepang yang dipraktekkan di Cina, dan begitupun sebaliknya.
Seperti misalnya, tradisi minum teh di Jepang yang banyak dilakukan di Cina,
dan huruf Jepang (huruf kanji) sebagian besar memang berakar dari huruf Cina. Walaupun
negara Cina dan Jepang memiliki kedekatan letak geografis dan kedekatan
kebudayaan, namun lokasi geografis mereka ini yang justru menimbulkan
pergesekan kepentingan politik, ekonomi dan keamanan masing-masing negara. Dan
hal ini menjadi ancaman terhadap keamanan nasional masing-masing negara yang
menimbulkan kecurigaan dan ketegangan sehingga memicu peningkatan kapabilitas
militer di masing-masing negara tersebut. Hal yang dapat dilakukan oleh suatu
negara untuk menjaga keamanan nasional lainnya adalah dengan membuat kebijakan
yang berfokus pada negara itu sendiri, sekaligus dengan tidak melupakan
kebijakan luar negeri untuk mengurangi ancaman dari luar. (Makmun, 2010)
Secara
sederhana keamanan nasional merupakan situasi bebas dari segala bentuk ancaman
bahaya, ketakutan dan kecemasan sebagai keadaan tidak adanya ancaman fisik (militer)
yang berasal dari luar. Suatu bangsa cenderung berada dalam keadaan aman
apabila bangsa tersebut tidak dipaksa untuk mengorbankan nilai-nilai yang
dianggapnya penting. Jika dapat menghindari perang atau terpaksa
melakukakannya, maka negara tersebut akan berusaha untuk keluar sebagai
pemenang.
Cina
merupakan negara terbesar di kawasan Asia Timur dengan jumlah penduduk
terbanyak di dunia. Cina memiliki akselerasi yang luar biasa dalam berbagai
bidang mulai dari bidang ekonomi, yang menempati perekonomian terbesar kedua
setelah Amerika Serikat, sampai dengan modernisasi militer yang sangat
menakjubkan dunia. Pembangunan militer Cina menjadikannya sebagai salah satu
kekuatan baru dan sekaligus menjadi ancaman besar bagi negara di kawasan Asia
dan dunia. Kekuatan militer Cina bukan hanya terletak pada kualitas senjatanya
tetapi juga kuantitas tentaranya.
Apabila
melihat sejarah kelam Cina, titik awal yang menjadi momentum bagi Cina untuk
bangkit dari keterpurukan adalah Reformasi yang dipelopori oleh Deng Xiaoping. Pada
kepemimpianan Mao Zedong, Cina adalah negara tertutup, miskin, radikal dan
terasing dari dunia luar. Dengan reformasi yang dilakukan oleh Deng, Cina
berhasil bangkit dan menjadi lebih maju serta lebih progresif. Cina kemudian
lebih membuka diri untuk melakukan kerjasama dengan negara lain dan lebih aktif
dalam berbagai permasalahan dalam kancah internasional. (Nainggolan, 1995)
Melalui
Open Door Policy Cina berhasil
menggerakkan modernisasi melalui empat sektor dengan fokus utama yaitu bidang
pertanian, industri dan teknologi, pendidikan serta pertahanan. Khusus dalam
bidang pertahanan, Cina mengalokasikan dana yang sangat besar untuk membangun
armada militer yang kuat. Pada awal tahun 2000, anggaran militer Cina berjumlah
14,6 miliar Dolar Amerika dan akan terus mengalami peningkatan, dan pada tahun
2009 anggaran dana pertahan Cina mencapai angka 70,2 miliar Dolar Amerika.
(Nurray, 2009)
Saat
ini Cina sudah tidak terlalu bergantung pada pembelian peralatan militer dari
luar. Melalui kekuatan ekonomi dan sumber daya yang memadai, Cina mampu membangun
swadaya militer dengan memproduksi sendiri peralatan militer mereka. Hasil
produksi mereka antara lain, Jet Tempur Jian-10, Jet latih lanjut lokal tipe
FTC-2000 Shanying (Elang Gunung) Nanchang JL-15 Falcon, pesawat tempur SU-27
SK, pesawat militer F-11 J-XX 4th Generation Fighter, kapal selam
kelas KILO, dan kapal selam siesel kelas Song. Mesin yang digunakan oleh
pesawat tempur ini bukan lagi mesin buatan Rusia tetapi murni buatan Cina.
Kebangkitan
Cina sebagai salah satu kekuatan baru yang agresif tentunya menimbulkan efek
khawatir dan waspada yang cukup besar bagi negara-negara di dunia. Seperti yang
diungkapkan oleh Jackson & Sorensen dalam security dilemma yaitu apabila suatu negara berada dalam situasi
yang tidak aman dan tidak menguntungkan akibat adanya ancaman secara tidak
langsung dari negara lain yang meningkatkan kekuatan pertahannnya (militer),
maka negara tersebut akan turut meningkatkan kekuatannya, sehingga akan
terwujud balance of power. Efek dari
kekuatan Cina ini terutama dirasakan oleh negara-negara tetangganya, termasuk
Jepang yang merupakan negara maju dengan kekuatan teknologinya.
(Jackson&Sorensen, 2005)
Kawasan
Asia Timur yang dihuni oleh negara-negara dengan kekuatan besar baik secara
ekonomi maupun militer menyimpan berbagai potensi konflik. Potensi konflik yang
muncul dilatarbelakangi oleh masalah sengketa teritorial, ketegangan akibat
konflik warisan sejarah masa lalu seperti Perang Dunia ke-2, serta ketegangan
yang diakibatkan oleh kecurigaan dalam peningkatan kapabilitas militer dari
masing-masing negara. Untuk Jepang dan Cina, permusuhan dua negara ini terjadi
sejak perang Cina-Jepang pertama pada tahun 1890-an, Perang Dunia I dan II,
sampai pada tabrakan kapal patroli Jepang dengan kapal nelayan Cina pada 7
September 2010 lalu yang semakin memanaskan hubungan kedua negara tersebut.
Kerentanan
masalah keamanan di Asia Timur khususnya antara Cina dengan Jepang, menjadi
poin yang sangat menarik untuk penulis analisa lebih jauh. Mengingat kedua
negara tersebut yang memegang peranan kunci dalam stabilitas kawasan dilihat
dari kapabilitas militer yang dimilikinya dan daya tawar politiknya
masing-masing. Ketertarikan utama yang mendorong penulis untuk mengulas masalah
ini adalah munculnya kesan bahwa perkembangan militer Cina yang sangat pesat
menjadi faktor pendorong bagi Jepang untuk turut meningkatkan dan mengembangkan
kapabilitas keamanannya (militer). Penulis melihat bahwa dengan meneliti topik
perkembangan militer Cina dan dampaknya bagi keamanan Jepang, maka kita dapat
mengukur seberapa jauh perkembangan Cina dan seberapa berpengaruh hal tersebut
terhadap Jepang sehingga mampu menjadi bahan informasi tambahan baru.
2.
KERANGKA
TEORI
Dalam
menganalisa masalah ini, penulis menggunakan metode kajian pustaka yang penulis
peroleh dari berbagai sumber mengenai segala sesuatu yang berkenaan dengan topik
yang penulis akan analisa dalam tulisan ini. Jenis data yang digunakan oleh
penulis adalah data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari literatur,
buku-buku, jurnal-jurnal, dan informasi yang diakses dari internet. Dalam
tulisan ini penulis juga memberikan penjelasan mengenai faktor-faktor yang
melandasi modernisasi militer Cina serta sasaran dan tujuannya. Kemudian
penulis membuat analisa mengenai stabilitas keamanan di Jepang pasca
modernisasi militer Cina.
3.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Pada
prinsipnya politik internasional adalah power
struggle yang meletakkan negara sebagai entitas politik yang berdaulat dan
independen yang memiliki kewenangan mengatur dan mengendalikan persoalan
bersama atas nama masyarakat. Sebagai aktor utama, negara berhak merumuskan
kepentingan nasionalnya yang diperjuangkan di dunia internasional. Namun konsekuensinya
adalah pertemuan antara kepentingan nasional negara satu dengan kepentingan
nasional negara lain menimbulkan persaingan. (Budiardjo, 2013)
Situasi
politik internasional bersifat dinamis atau berubah-ubah sehingga negara-negara
yang terlibat di dalamnya juga mengalami perubahan pola hubungan. Akibat yang
ditimbulkan dari kondisi yang tidak pasti ini, negara kemudian mengambil
berbagai kebijakan antisipasi demi menjamin keamanan dan kepentingan
nasionalnya. Seperti yang diterapkan oleh Cina yaitu melalui pengembangan
kekuatan militer dalam menjaga stabilitas keamanan negaranya yang kemudian
diantisipasi oleh negara-negara lain di Asia Timur, khusunya Jepang dengan
turut mengembangkan kekuatan militernya. Akselerasi modernisasi kekuatan militer
Cina di tengah persaingan global dan regional tak pelak memunculkan persaingan.
Terlebih Jepang tergugah untuk meningkatkan kemampuan militer mereka untuk
menjaga stabilitas ancaman yang mungkin datang sewaktu-waktu dan secara
tiba-tiba.
Ada
beberapa faktor yang melandasi modernisasi militer Cina seperti yang pernah
diungkapkan oleh Presiden Cina Hu Jintao dalam pidato Kongres ke-17. Hu Jintao
menginformasikan bahwa lima tahun ke depan sasaran strategis pengembangan
kekuatan militer Cina yakni membangun angkatan bersenjata yang terkomputerisasi
dan unggul dalam kemampuan tempur berbasis teknologi informasi serta didukung
oleh pasukan bermutu tinggi dalam kapasitas yang besar. Pimpinan Partai Komunis
Cina ini juga mengungkapkan bahwa modernisasi militer ini tidak akan pernah
terlibat dalam perlombaan senjata ataupun mengancam negara manapun, namun hanya
untuk pertahanan dan untuk menjaga kedaulatan, keamanan dan integritas teritorial
negara tersebut. (Yani, 2010)
Adapun
faktor-faktor yang melandasi modernisasi militer Cina adalah, pertama adanya
pergeseran pemikiran pertahanan Cina. Pada dekade 1930-an dan 1940-an
perkembangan pemikiran pertahanan Cina modern
mulai muncul terutama lebih mengedepankan dua komponen strategi, yakni
pertahanan teritorial atau darat (territorial
defense) dan pertahanan pantai (coasial
defense). Pada masa pemerintahan Mao Zedong, perang gerilya merupakan inti
dari strategi pertahanan. Maka dari itu sampai pada awal tahun 1980-an strategi
pertahanan pantai hanya menjadi komponen kedua dalam strategi pertahanan
nasional Cina.
Kemudian
awal tahun 1980-an Cina menerapkan strategi “pertahanan aktif” yang selaras
dengan upaya pembangunan ekonomi “lompatan jauh ke depan” yang dicanangkan oleh
Deng Xiaoping. Secara keseluruhan, strategi pertahanan aktif difokuskan untuk
menghadapi tiga jenis perang yaitu, perang dunia, perang skala luas dalam
menghadapi agresi negara asing terhadap Cina, dan konflik perbatasan atau
perang terbatas. Pada awal tahun 1990-an strategi pertahanan aktif kembali
direvisi. Cina menetapkan prioritas pengembangan pada angkatan laut dan udara.
Keinginan
Presiden Hu Jintao kali ini adalah untuk meningkatkan kekuatan militer Cina yang
merupakan implementasi dari strategi pertahanan aktif dan konstruksi kualitatif
militer yang menjadi landasan strategi pertahanan dalam rangka mengantisispasi
perang regional dan terbatas. Langkah yang diambil oleh Hu Jintao pada tahap
pertama adalah, satuan-satuan pesukan gerak cepat yang dikembangkan akan
didampingi oleh aircraft carriers dan
membentuk sistem penyerangan dan pertahanan tiga dimensi yang terdiri dari
perlengkapan serang udara, permukaan dan kapal selam. Pada tahap kedua,
pengembangan peralatan perang berteknologi tinggi akan diterapkan pada seluruh
angkatan bersenjata Cina. Dengan ini diharapkan setelah tahun 2020 Cina akan
menjadi kekuatan laut yang handal dan berskala global.
Faktor
kedua yang melandasi modernisasi militer Cina adalah adanya implikasi bagi
perimbangan strategis di kawasan. Dalam tataran makro strategi, upaya Cina
untuk meningkatkan kekuatan militernya dalam kurun waktu lima tahun dapat
berimplikasi pada perimbangan strategis di kawasan. Sebagai sebuah entitas
negara bangsa di kawasan Asia-Pasifik, tingkah laku Cina sangat ditentukan oleh
faktor-faktor eksternal terutama sikap dan kebijakan Amerika Serikat dan
sekutunya seperti Jepang, Korea Selatan dan Australia. Dengan kata lain secara
hipotesis faktor Cina dalam hubungan segitiga AS-Cina-sekutu AS akan menentukan
lingkungan politik, keamanan dan ekonomi kawasan Asia-Pasifik.
Melihat
perkembangan modernisasi militer Cina ini tentunya sudah menjadi ancaman bagi
negara tetangganya terutama Jepang. Stabilitas keamanan di Jepang pasca
modernisasi militer Cina juga terus ditingkatkan. Menteri Luar Negeri Jepang
Taro Aso mengungkapkan bahwa, peningkatan anggaran militer Cina telah
menimbulkan perasaan terancam bagi kawasan Asia Timur. Jepang khawatir terhadap
pembangunan militer Cina dan juga terhadap anggaran militer Cina yang tidak
transparan. Posisi Cina sebagai negara besar membuat segala tindakan yang
dilakukannya dalam kekuatan militernya dipandang sebagai ancaman oleh negara
lain, khususnya Jepang. (http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/2s1hi/206613004/bab1.pdf)
Jepang
khawatir atas peningkatan anggaran militer Cina yang menunjang kemampuan
militernya. Namun Jepang juga telah merespon perkembangan Cina yaitu dengan
menambah armada kapal selamnya dari 16 buah menjadi 22 buah, hal ini untuk
mengimbangi kekuatan angkatan laut Cina yang diperkirakan memiliki sekitar 60
buah kapal selam. Ancaman terhadap stabilitas pun semakin besar mengingat bahwa
Jepang dan Cina memiliki hubungan rivalitas di masa silam saat Perang Dunia.
Perkembangan kekuatan militer Jepang juga turut ditingkatkan untuk melindungi
kepentingan nasionalnya atau hanya untuk menjaga superioritas suatu negara
semata, bukan untuk menghadapi musuh tertentu.
Peningkatan
potensi ancaman yang muncul dari Cina menyebabkan Jepang harus melakukan
perubahan dalam kebijakan pertahanan yang dimilikinya. Pada tahun 2005 Jepang
mulai menerapkan National Defense Program
Guidelines (NDPG) sebagai kebijakan baru pertahan Jepang yang dibentuk pada
10 Desember 2004. Dalam NDPG 2005 terdapat teori bahwa ancaman militer Cina dimasukkan
ke dalam dokumen resmi kebijakan pertahanan Jepang. Rencana pertahanan Jepang
2005-2009 untuk pertama kalinya menyebutkan Cina sebagai masalah keamanan.
Langkah-langkah
yang ditetapkan dalam National Defense
Program Guidelines (NDPG) adalah kebijakan pertahanan yang berupaya untuk
mengatasi permasalahan keamanan secara menyeluruh, tidak hanya bertumpu pada
kekuatan militer. Upaya yang dilakukan oleh Jepang adalah memanfaatkan kekuatan
ekonomi serta menerapkan langkah-langkah politik dalam mengatasi permasalahan
keamanan. NDPG menegaskan bahwa Jepang akan tetap berkomitmen pada kebijakan
dasar memilihara kebijakan yang berorientasi pada pertahanan eksklusif, tidak
menjadi power militer yang besar yang
dapat menciptakan ancaman ke seluruh dunia, dan membangun kemampuan pertahanan
moderat sebagai subyek dari pembatasan konstitusional. Tujuan kebijakan
pertahanan Jepang adalah untuk mencegah ancaman apapun secara langsung mencapai
Jepang, dan jika hal itu terjadi maka Jepang berupaya untuk menahannya.
Kebijakan pertahanan Jepang juga untuk meningkatkan keamanan lingkungan
internasional, sehingga mengurangi ancaman apapun yang mencapai Jepang.
4.
KESIMPULAN
Cina
dan Jepang yang merupakan dua bangsa besar yang berada di kawasan Asia Timur
sebenarnya merupakan satu rumpun yang memiliki pertalian budaya yang kuat. Namun,
kedekatan geografis dan kebudayaan ini menimbulkan gesekan politik, ekonomi dan
keamanan di masing-masing negara. Sehingga menimbulkan berbagai persaingan
diantara kedua negara tersebut.
Ketika
Cina gencar untuk meningkatkan stabilitas pertahanan dan melakukan modernisasi
militer, maka Jepang akan merasa terancam dan turut untuk mengimbangi
kekuatannya (balance of power).
Faktor-faktor yang melandasi modernisasi militer Cina yang pertama adalah
adanya pergeseran pemikiran pertahan Cina. Perubahan terhadap perlindungan dan
pertahanan negaranya terus berkembang seiring dengan perubahan dan perkembangan
masanya. Faktor kedua adalah adanya implikasi bagi perimbangan strategis di
kawasan. Cina yang menduduki posisi strategis turut mempengaruhi kondisi atau lingkungan
politik, keamanan dan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik.
Jepang
merespon terhadap perubahan dan berbagai tindakan yang dianggap sebagai ancaman
yang dilakukan Cina, salah satunya dengan kebijakan pertahanan melalui National Defense Program Guidelines
(NDPG) yang menetapkan bahwa Cina merupakan suatu ancaman militer bagi Jepang.
Selain itu Jepang juga tetap berkomitmen pada kebijakan dasar memilihara
kebijakan yang berorientasi pada pertahanan eksklusif, tidak menjadi power militer yang besar yang dapat
menciptakan ancaman ke seluruh dunia, dan membangun kemampuan pertahanan
moderat sebagai subyek dari pembatasan konstitusional.
DAFTAR
PUSTAKA
Budiardjo, Miriam.
(2013). Dasar-dasar Ilmu Politik Edisi Revisi. Jakarta: CV Prima Grafika.
Jackson, Robert &
George Sorensen. (2005). Pengantar Studi Hubungan internasional. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Makmun, Heri Hidayat.
(2010). Persaingan Dua Raksasa Asia Timur. Retrieved June 22, 2014, from http://indonesianvoices.com/index.php/sejarah/sejarah-nusantara/57-persaingan-dua-raksasa-asia-timur?format=pdf
Nainggolan, Portak
Partogi. (1995). Reformasi Ekonomi RRC era Deng Xiaoping: Pasar Bebas dan
Kapitalisme Dihidupkan. Retrieved June 21, 2014, from http://www.adjisubela.com/2012/02/kunci-reformasi-ekonomi-china.html
Nurray. (2009).
Anggaran Militer China Tahun 2009: 70,2 miliar USD. Retrieved June 21, 2014,
from http://nurray.wordpress.com/2009/03/28/anggaran-militer-cina-tahun-2009-70-2-miliar-usd/
Yani, Yanyan Mochamad.
(2010). Makna Pengembangan Kekuatan Militer Cina. Retrieved June 21, 2014, from
http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2010/01/makna_pengembangan_kekuatan_militer_cina.pdf
____________ . Bab I Pendahuluan -
perpustakaan. Retrieved June 21, 2014, from http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/2s1hi/206613004/bab1.pdf
____________ . Bab I Pendahuluan.
Retrieved June 18, 2014, from http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/1170/BAB%20I.pdf?sequence=2