Minggu, 29 Mei 2016

GLOKALISASI BENTUK BARU DARI GLOBALISASI (?)

Bener gak sihh glokalisasi hanya sebagai kedok negara-negara industri besar untuk kembali menguasai negara dunia ketiga hanya demi mencapai kepentingan ekonominya?
Cekidott..


FENOMENA GLOKALISASI DI INDIA
Studi Kasus: Penerapan Glokalisasi di India Terkait Perusahaan Coca-Cola yang Beroperasi di India

images.jpg










WAYAN YULIA SWADEVI
NIM: 1321105006







PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS UDAYANA
2016


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Globalisasi menjadi fenomena luar biasa di era modern. Pengaruh globalisasi semakin meningkat yang terjadi dimana-mana (Ritzer, 2011). Globalisasi jelas memiliki posisi penting dalam terciptanya perubahan, bahkan Bauman (2003) mengatakan bahwa globalisasi menempati posisi paling penting dalam merubah sejarah manusia (Bauman, 2003). Hal ini tercermin dalam banyak domain, tetapi terutama terlihat dalam hubungan sosial dan struktur sosial, terutama yang tersebar secara geografis (Ritzer, 2011).
Pengertian globalisasi menurut Ritzer (2011) dalam bukunya Globalization: The Essential adalah suatu proses transplanetary atau proses mengatur ulang yang melibatkan serta meningatkan likuiditas dan mendorong berkembangnya arus multi-direksional orang, barang, tempat dan informasi, serta dalam struktur yang mereka hadapi dapat menciptakan percepatan arus, atau sebaliknya memperlambat (Ritzer, 2011). Globalisasi menjadi suatu proses yang dapat menciptakan homogenitas melalui persaingan yang dilaksanakan di banyak negara. Keberadaan kapitalisme menjadi realisasi nyata keberadaan globalisasi (Evans, 1992).
            Berbicara mengenai globalisasi akan sangat berkaitan dengan fenomena glokalisasi. Glokalisasi merupakan konsep yang menempati bagian terpenting dalam hibridisasi budaya sebagaimana para teoritisi kontemporer yang berpikir bahwa globalisasi merupakan bagian penting dari proses global yang alami (Giulianotti and Robertson 2007). Glokalisasi dapat didefinisikan sebagai interpenetrasi antara global dan lokal, sehingga menciptakan hasil yang unik dalam wilayah geografis yang berbeda (Ritzer, 2011). Adanya glokalisasi yang melibatkan antara kebudayaan lokal dan global kemudian menciptakan heterogenitas dalam kehidupan. Glokalisasi lahir untuk membendung budaya yang semakin homogen agar tidak masuk secara luas dan masif di masing-masing negara. Berdasarkan pemikiran kaum postmodern, glokalisasi memiliki dua sisi pengaruh timbal balik antara budaya global dan budaya lokal, yaitu satu sisi kuatnya identitas budaya lokal (tradisi), sehingga budaya global tidak sampai menghilangkan budaya lokal. Disisi lain budaya global akan menyerap unsur budaya lokal sehingga mampu beradaptasi dalam suasana multkultural yang berjalan beriringan (Duija, 2005).
            Adanya fenomena glokalisasi membuka peluang pertentangan antara budaya lokal dan budaya global (kapitalis). Glokalisasi seringkali dikaitkan dengan pengaruh paham kapitalis melalui fenomena perusahaan besar yang mampu masuk dan menyesuaikan diri dengan budaya masing-masing negara, seperti McDonald’s, Starbucks, KFC, Coca-Cola dan perusahaan lainnya. Secara sederhanan, glokalisasi masih sangat identik dengan aspek ekonomi dan keuntungan (Royani, 2015).
            Sebagai salah satu negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang cepat, yaitu tumbuh 7,3 persen pada kuartal terakhir tahun 2015 (VOA 2016), India tidak terlepas dari adanya pengaruh paham kapitalis dalam bentuk perusahaan asing yang menanamkan modal dan mengembangkan usahanya disana. Salah satunya yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah Coca-Cola yang menduduki peringkat sebagai brand #1 di dunia dengan estimasi nilai merek $70.45 billion menurut Interbrand’s Global Brand Scorecard pada tahun 2003 (Kaye, 2004).
            Coca-Cola merupakan sebuah brand minuman ringan terkemuka di India sampai pada tahun 1977 (Kaye, 2004). Pada tahun tersebut (1977), pemerintahan sosialis mulai berkuasa di India sehingga Coca-Cola terpaksa keluar dari operasinya di India terkait dengan kebijakan pemerintah sosialis yang mengeluarkan kebijakan nasionalisasi perusahaan asing (Kadri, 2006). Setelah absen selama 16 tahun, Coca-Cola kembali ke India pada tahun 1993 setelah adanya kebijakan neo-liberation di India (Kadri, 2006). Melalui kesepakatan ini secara langsung kemudian memberi Coca-Cola kepemilikan atas merek minuman ringan dan jaringan pembotolan (Kaye, 2004), tetapi melalui lanskap budaya dan ekonomi yang sangat berbeda (Kadri, 2006).
            Kombinasi antara lokal dan global diaktifkan Coca-Cola untuk mengeksploitasi manfaat dari merek global dan dalam selera tren global, sementara juga memasuki pasar domestik tradisional (Kaye, 2004). Fenomena ini menjadi sangat menarik untuk dibahas, karena satu sisi memandang bahwa bagaimana kapitalisme menyusup melalui konsep glokalisasi dengan secara efektif memasarkan produknya, dalam bahasan ini adalah perusahaan Coca-Cola di India. Disisi lain dapat dilihat bahwa bagaimanan identitas budaya India mempertahankan dirinya dalam proses tersebut, dan perubahan sikap pemerintah pasca pemerintahan sosialis untuk membuka pasar global. Bagaimana kemudian perpaduan antara tren global dan selera lokal ini mampu menguasai pasar atau bahkan meningkatkan perekonomian India. Apakah pandangan kaum postmodern, yang melihat dua sisi pengaruh timbal balik dari glokalisasi antara budaya lokal dan global diterapkan oleh India untuk membatasi pengaruh budaya global. Ataukah tren global yang menyerap unsur lokal India hanya untuk mencapai tujuan ekonominya.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan tersebut diatas, maka penulis tertarik untuk membahas mengenai penerapan konsep glokalisasi di India melalui perpaduan antara tren global dan selera lokal. Dalam tulisan ini mengangkat studi kasus mengenai Coca-Cola sebagai salah satu perusahaan asing yang menanamkan modalnya di India dengan misi membawa tren global, tetapi disesuaikan dengan selera lokal setempat di India. Hal ini kemudian sangat menarik untuk dipertanyakan. Untuk itu, penulis mengajukan rumusan masalah “Bagaimana konsep Glokalisasi diterapkan di India terkait dengan perusahaan Coca-Cola yang beroperasi di India?”












BAB II
TEORI DAN KONSEP

2.1  Neoliberalisme
Dalam buku Ritzer (2011) Globalization: The Essential, mencantumkan mengenai teori-teori besar dalam menjelaskan fenomena globalisasi. Neoliberalisme menempati salah satu dari beberapa teori besar terkait dengan pandangan umum mengenai globalisasi. Seorang teoritisi neoliberalisme, William Easterly, menentang segala bentuk kolektivisme dan perencanaan oleh negara, karena justru akan menghambat pertumbuhan, dan membatasi kebebasan. Bagi Easterly, kebebasan, terutama kebebasan ekonomi dipandang sangat berkorelasi dengan keberhasilan ekonomi. Hal ini terjadi karena kebebasan ekonomi memungkinkan pencarian desentralisasi untuk sukses yang merupakan ciri khas dari pasar bebas (Easterly 2006 in the text of Ritzer 2011).
Dalam pandangannya, Easterly menawarkan beberapa alasan mengapa kebebasan ekonomi terkait dengan keberhasilan ekonomi, dan mengapa perencanaan terpusat akan menyebabkan kegagalan ekonomi. Pertama, pandangan bahwa kebebasan ekonomi memungkinkan lebih banyak upaya yang dilakukan, sehingga kegagalan dapat dipangkas. Perencanaan terpusat tidak memiliki banyak pengetahuan individu, tidak dapat belajar dari pengalaman orang lain sehingga keberhasilan lebih sulit untuk dicapai. Kedua, melalui pasar dapat menawarkan umpan balik terus menerus mengenai apa yang berhasil dan gagal; perencana pusat tidak memiliki umpan balik tersebut. Ketiga, kebebasan ekonomi mengarah ke realokasi yang ruthless (kejam) dari sumber daya agar berhasil, sedangkan perencana pusat seringkali tidak memiliki kepentingan yang mencegah realokasi tersebut. Keempat, kebebasan ekonomi memungkinkan peningkatan dalam skala yang besar dan cepat oleh pasar keuangan dan organisasi perusahaan; perencana pusat tidak memiliki fleksibilitas untuk membuat perubahan dalam skala yang besar dan cepat. Terakhir, adanya perlindungan kontrak yang terpercaya, individu dan perusahaan bersedia mengambil resiko besar; sebaliknya perencana pusat lebih menolak resiko karena kerentanan pribadi bagi mereka jika ada yang salah.
Dikaitkan dengan tulisan ini, akan menganalisa mengenai bagaimana teori neoliberalisme diterapkan di India pasca pemerintahan sosialis yang membuka peluang pasar global untuk masuk ke negaranya, tetapi kemudian disesuaikan dengan budaya lokal setempat. Tentunya India memiliki tujuan-tujuan atau kepentingan tertentu yang mendukung sikapnya untuk membuka pasar global yang selanjutnya akan dipaparkan dalam pembahasan.

2.2  Glokalisasi
Konsep menggabungkan antara global dan lokal pertama kali muncul pada lingkaran bisnis Jepang pada 1980-an. Wind (1986) mengungkapkan praktik ini sebagai “think globally, act locally.” Kemudian di tahun 1990-an, konsep ini dipopulerkan sebagai “Glokalisasi” (Robertson 1995 in the text of Jain 2012). Menurut Robertson (2001), elemen penting dari perspektif tentang globalisasi yang diadopsi oleh mereka yang menekankan glokalisasi adalah bahwa dunia tumbuh lebih plural. Ini berarti bahwa teori glokalisasi ini sangat waspada terhadap perbedaan di dalam dan di antara wilayah di dunia. Individu dan kelompok-kelompok lokal memiliki kekuatan besar untuk beradaptasi, berinovasi, dan manuver dalam dunia yang ter-globalized. Dalam hal bahwa teori glokalisasi melihat individu dan kelompok-kelompok lokal sebagai agen penting dan kreatif. Glokalisasi juga digambarkan oleh Robertson (2001) sebagai proses sosial yang relasional dan saling berkaitan. Robertson (2001) juga memandang komoditas dan media bukan sebagai agen koersif, melainkan sebagai penyedia bahan yang akan digunakan dalam individu atau kelompok dalam menciptakan glocalized seluruh wilayah di dunia (Robertson 2001 in the text of Ritzer 2011).    
Standarisasi dalam melaksanakan strategi glokal adalah dengan membawa elemen global inti dan melokalisasi elemen lainnya. Ini merupakan kompromi antara strategi pemasaran global dan domestik. Pemasaran glokal ini mencerminkan cita-cita murni dari strategi pemasaran global dan pengakuan atas isu-isu yang secara lokal terkait dengan kegiatan pemasaran perlu dipertimbangkan. Dengan kata lain, konsep glokal menetapkan bahwa untuk menjadi sukses secara global, manajemen pemasaran harus bertindak secara lokal di pasar yang berbeda yang telah mereka tentukan untuk memasarkan produknya. Dalam strategi global, tingkat perusahaan memberikan arahan strategis sementara unit lokal fokus pada perbedaan pelanggan lokal (Kotler, 2009).
Dalam tulisan Deepti Sharma (2013) dipaparkan mengenai karakteristik dari glokalisasi adalah sebagai berikut (Sharma, 2013):
a.       Memanfaatkan global experience atau nama merek global, dan membedakan tawaran dalam menarik pasar lokal.
b.      Beroperasi dalam pasar global dan ceruk pasar lokal.
c.       Mengin tegrasikan antara globalisme dan lokalisme.
d.      Mengintegrasikan kualitas dan nilai dalam produk, yang akan dijual dalam jumlah besar.
e.       Ketenaran tinggi dari merek.
f.       Sebuah produk/layanan glokal dapat menghadapi persaingan antara merek lokal dan internasional dalam cara yang lebih baik karena memenuhi kebutuhan atau preferensi lokal tertentu dengan biaya yang lebih rendah.
Berdasarkan konsep glokalisasi tersebut apabila dikaitkan dengan tulisan ini, akan melihat bagaimana konsep glokalisasi diterapkan di India baik oleh perusahaan Coca-Cola agar memperlancar pemasaran produknya ataupun India dalam mempertahankan identitas kebudayaannya. Dan bagaimana kemudian India, melalui penerapan konsep glokalisasi mampu mencapai tujuan-tujuan atau kepentingan negaranya terutama dalam bidang ekonomi, dengan tidak menanggalkan atau tetap mempertahankan selera lokal budaya setempat. 









BAB III
PEMBAHASAN

            Fenomena glokalisasi yang diterapkan oleh India tidak terlepas dari latar belakang India terdahulu. India merupakan rumah bagi salah satu kebudayaan yang paling kuno di dunia yang telah ada sejak 5000 tahun lalu (Kaye, 2004). Pada saat ini, India tengah berada di tengah-tengah transisi besar dan dikotomi antara India lama dan baru yang sebenarnya. Sisa-sisa dari sistem kasta masih terlihat ada di jajaran sekolah-sekolah teknik dan telah tumbuh lebih metropolis. Demikian juga sektor ekonomi dari agrikultur telah berubah ke sektor jasa. Dalam prosesnya ini, India telah menciptakan kelas menengah terbesar kedua di dunia setelah Cina (Kaye, 2004).
            Sejak tahun 1769 sebuah koloni Inggris, East India Company menguasai semua perdagangan Eropa di India. India merdeka pada tahun 1947 di bawah kepemimpinan Mahatma Gandhi dengan prinsip-prinsip non-kekerasan dan kemandirian. Dalam dekade berikutnya, sebagian besar masyarakat India kemudian memandang kemandirian ekonomi yang dicapai harus benar-benar independen. Sebagai konsekuensinya, perekonomian semakin diatur dan banyak sektor dibatasi untuk sektor publik. Gerakan ini kemudian mencapai puncaknya pada tahun 1977 ketika pemerintahan partai Bharatiya Janata yang berideologi sosialis berkuasa. Berkuasanya pemerintahan sosialis ini kemudian membuat perusahaan-perusahaan asing di India memilih keluar dari India, termasuk Coca-Cola terlempar ke luar. Pada tahun 1991, generasi pertama dari reformasi ekonomi diperkenalkan dan liberalisasi dimulai (Kaye, 2004).
            Reformasi ekonomi di India pasca 1991 telah mengalami evolusi dan peningkatan secara alami. Meskipun masih terdapat beberapa penundaan dan kemunduran di beberapa wilayah karena adanya interaksi politik yang demokratis, pemerintahan koalisi dan kelompok penekan dengan kepentingan pribadi. Namun, masing-masing dari lima pemerintahan India berturut-turut sejak tahun 1991 telah melakukan sejumlah reformasi ekonomi, yang didasarkan pada liberalisasi pasar dan meletakkan peran yang lebih besar pada perusahaan swasta (Wadhva, _).
            Salah satu perusahaan swasta yang telah beroperasi di India bahkan sebelum adanya reformasi ekonomi adalah perusahaan Coca-Cola. Coca-Cola merupakan perusahaan minuman ringan terbesar di dunia yang telah hadir dan berdiri sebagai salah satu perusahaan terkuat di dunia sejak 1886 (Faheem, 2009). Coca-Cola merupakan merek minuman ringan internasional pertama yang memasuki pasar India pada awal 1970-an (Assignment Writers, 2012). Namun, eksistensi Coca-Cola sebagai minuman ringan terkemuka di India hanya sampai pada tahun 1977. Coca-Cola kemudian lebih memilih untuk meninggalkan India daripada mengungkapkan formula minuman berkarbonasi tersebut kepada pemerintah India ataupun mengurangi kepemilikan saham sebagaimana yang diisyarakatkan dalam Foreign Exchange Regulation Act (FERA) yang mengatur mengenai operasi perusahaan asing di India (Kaye, 2004).
            Setelah absen selama 16 tahun, Coca-Cola kembali ke India pada tahun 1993. Selama kurun waktu absennya perusahaan tersebut, terdapat perusahaan lokal Parle Brothers yang mencetuskan cola alternative yang dinamakan Thumbs Up, bersama sejumlah minuman lain seperti rasa lemon soda Limca dan rasa mangga Maaza (Kadri, 2006). Setelah kembali ke India pada tahun 1993, untuk mempererat kehadirannya melalui kesepakatan dengan pemerintah India, Coca-Cola kemudian diberikan kepemilikian atas merek minuman ringan dan jaringan pembotolan (Kaye, 2004). Akuisisi[1] merek Coke yang populer di India termasuk Thumbs Up[2], Limca, Maaza, Citra dan Gold Spot bukan hanya dalam aset produksi, pembotolan dan distribusi fisik, tetapi juga preferensi konsumen yang kuat (Kaye, 2004). Tetapi setelah Coca-Cola membeli operasi Parle lengkap pada tahun 1993 dan menganggap bahwa mereka bisa menggunakan metode Parle terdahulu. Tetapi kemudian suatu generasi tumbuh tanpa Coke dan tidak merindukannya kembali (Deogun & Carp, 1998). Hal ini tampaknya bahwa penduduk setempat merasakan Coke tidak seperti Thumbs Up, dulu Thumbs Up dirasakan baik-baik saja bahkan ketika tidak didinginkan dan masih bisa dirasakan terutama oleh konsumen dari golongan miskin (Kadri, 2006).
            Berkaca pada Hindustan Lever, yang merupakan anak perusahaan global Unilever tetapi beroperasi secara lokal di India, merupakan salah satu produsen pertama dan distributor FMCGs (Fast-moving Consumer Goods)  untuk mewujudkan potensi pasar pedesaan India dengan memperkenalkan paket ukuran kecil bubuk cuci yang dapat dipakai beberapa kali mencuci. Dengan mengurangi margin, tetapi meningkatkan omset, mencari laba di India dilancarkan oleh pemain global. Hal ini memperlihatkan bahwa, India membutuhkan ketenagakerjaan dan ketersediaan dari 3As yaitu availability (ketersediaan), affordability (keterjangkauan), dan acceptability (penerimaan) (Balakhrisna 2003 in the text of kadri 2006).
            Coca-Cola mengakui kurangnya pemahaman mengenai kekhasan lokal, setelah melakukan peluncuran yang luas di India. Hal ini disadari karena Coca-Cola harus bersaing dengan minuman tradisional seperti narial-pani (air kelapa), nimbu-pani (air-lemon), chai (teh), lassi (yogurt drink) dan jus buah. Harga yang kompetitif juga perlu dipertimbangkan (Kadri, 2006).  Coca-Cola harus berkonsentrasi dalam banyak aspek sehingga mereka dapat meraih pangsa pasar yang lebih dan mendapatkan tempat di masyarakat. Reputasi merek perusahaan dan pengenalan merek saja tidak cukup bagi masyarakat India. India menanggapi masalah bisnis sedemikian serius dan pendekatan mereka sama sekali berbeda dalam pola ataupun kebiasaan. Oleh karena itu, Coca-Cola mengambil inisiatif mengadopsi alternative branding dan strategi promosi untuk mengembangkan basis penggemar di India.  Solusi utama dan terpenting adalah bahwa komunikasi secara terbuka dengan konstituen kunci, termasuk masyarakat, media, karyawan, saluran perdagangan dan distribusi, negara dan pemerintah nasional serta pemasok (Assignment Writers, 2012)
            CEO Coca-Cola Douglas Daft kemudian mengatur arahan untuk generasi berikutnya dengan membawa ‘mantra’ keberhasilan untuk merek globalnya yaitu “think global, act local.” Menyadari bahwa strategi global tunggal atau kampanye global tunggal tidak akan bekerja, eksekusi yang relevan secara lokal menjadi elemen yang semakin penting untuk mendukung strategi dalam pemasaran merek global Coca-Cola. Berikut ini merupakan tabel strategi lokal dan global yang dikenal dengan strategi glokal (glocal strategy).

Local
Thinking locally, acting locally
Global
Thinking globally, acting globally
Glocal
Thingking globally, acting locally
                                 Tabel 1: the Maxims for Local, Global and Glocal
Dengan kata lain, perusahaan-perusahaan yang sukses harus mengembangkan strategi glokal, dengan memanfaatkan pengalaman global mereka dan kemudian mengubah dan menyesuaikan layanan dan produk mereka sedemikian rupa yang akan menarik bagi pasar lokal (Luigi & Simona, _).
            Dalam tulisan Sharma (2013) disebutkan mengenai prasyarat glokalisasi di India. Disana dituliskan bahwa setiap konsep memiliki beberapa prasyarat mendasar yang menjamin pengikutnya untuk mengikuti konsep tersebut demi mencapai kepentingannya sendiri. Menurut forum glokal, prasyarat untuk glokalisasi adalah sebagai berikut: reformasi diplomasi tradisional, perdamaian dan pengembangan, sentralisasi isu budaya, municipal governance, manajemen sumber daya, masyarakat sipil dan demokratisasi, dana publik, sumber daya swasta, mekanisme keuangan, sektor inovatif, dan kapasitas pembangunan  (Sharma, 2013).
            Dalam memasuki pangsa pasar di India, Coca-Cola   menggunakan strategi glokalisasi merek yang dikenal dengan The Two Indias. Strategi ini dibagi ke dalam dua bagian, yaitu India A :”Life ho to aisi” dan India B: “Thanda Matlab Coca-Cola” (Fernandes, 2013). India A sebagai segmen pasar yang menunjuk Coca-Cola telah mewakili wilayah metropolitan dan kota-kota besar, sekitar 4 persen dari total populasi (Fernandes, 2013). Segmen ini menunjukkan ikatan sosial sebagai kebutuhan dan menanggapi pesan aspiratif, merayakan manfaat serta meningkatkan kebebasan sosial dan ekonomi. Coca-Cola menggunakan tagline “Life ho to aisi” (hidup sebagaimana mestinya) kemudian menjadikan tagline ini sukses dan relevan ditemukan dalam iklan Coca-Cola yang dirasa sesuai kebutuhan dan aspirasi para penonton (Kaye, 2004).
            Coca-Cola India percaya bahwa merek pertama yang menawarkan komunikasi serta menargetkan kota-kota kecil dan pasar pedesaan merupakan tujuan dalam strategi yang komprehensif (Kaye, 2004). India B “Thanda Matlab Coca-Cola” menargetkan kota-kota kecil dan segmen pedesaan yang memperhitungkan 96 persen dari penduduk India yang menginginkan kemampuan pendinginan dari Coca-Cola harus terpenuhi (Fernandes, 2013). Bahasa lokal dan idiom[3] yang tepat digunakan oleh Coca-Cola dalam kampanye iklannya yang memperlancar rencana pemasaran. “Thanda” berarti ‘keren’ yang juga menandakan minuman dingin dan “Coke” berarti penyegaran” sesuai dengan kubutuhan target segmen (Fernandes, 2013). Strategi iklan dan promosi yang menggunakan bahasa lokal dan ekspresi idiomatic ini menjadi mearik dan memperlancar rencana pemasaran. Sebagai hasil dari kampanye Thanda, Coca-Cola berhasil memenangkan Advertiser of the Year dan Campaign of the Year pada 2003 (Kaye, 2004).
            Selain strategi glokalisasi dalam bidang pemasaran tersebut, Coca-Cola juga berhasil terjun ke pasar India melalui pemanfaatan tenaga kerja lokal dan tanggung jawab sosial perusahaan dengan berfokus pada masyarakat dan lingkungan terkait (Fernandes, 2013). Dalam menjalankan faktor produksinya, Coca-Cola dibantu dengan 7.000 karyawan lokal di 27 operasi pembotolan yang dimiliki sepenuhnya dan dilengkapi dengan 17 operasi pembotolan franchisee dan 29 jaringan kontrak-packers untuk memproduksi berbagai produk bagi perusahaan (Kaye, 2004). Proses manufaktur lengkap telah didokumentasikan melalui kontrol kualitas dan program jaminan termasuk lebih dari 400 tes yang dilakukan selama proses berlangsung. 
            Pemasaran produk melalui strategi glokalisasi memberikan sejumlah keuntungan didalamnya. Philip Kotler menguraikan mengenai keuntungan tertentu dari pemasaran glokal sebagai berikut: konsumen akan merasa bahwa merek yang ditawarkan relevan bagi mereka dan disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan mereka; terdapat harmoni dan keseimbangan antara berbagai tingkat kegiatan pemasaran (strategis, taktis dan operasi); merek mendapatkan pangsa pasar yang lebih besar; mencapai penerimaan yang lebih tingi; laba keuntungan biaya kompetitif yang jelas dari outsourcing; menarik lebih banyak konsumen di pasar dengan cara yang fleksibel, dengan keuntungan maksimal; menyesuaikan dengan berbagai negara dan menghindari masalah etika (Kotler 2009 in the text of Sharma 2013).                            
            Dari tahun 1993 hingga 2003, Coca-Cola menginvestasikan lebih dari US$ 1 miliar di India, membuatnya menjadi salah satu investor internasional terbesar (Kaye, 2004). Pada tahun 2002, Coca-Cola India mencapai pertumbuhan volume sebesar 39 persen. Antara September 2002 dan Maret 2003, sebesar dua kali lipat kapasitas perusahaan telah melakukan investasi sebesar US $ 125 juta (Sharma, 2013).  Bahkan pada tahun 2003, Coca-Cola India telah memenangkan Woodruf Cup yang merupakan penghargaan bergengsi diantara 22 divisi dari perusahaan berdasarkan tiga parameter besar yaitu volume, profitabilitas dan kualitas (Kaye, 2004).
            Pada kenyataannya berbagai perubahan dan kemajuan yang telah dicapai baik oleh India ataupun perusahaan Coca-Cola tidak semua orang menyukai perubahan tersebut. Berbagai kritik muncul, salah satunya dari para sosiolog di India yang meneliti perubahan-perubahan yang sedang berlangsung dalam konteks globalisasi. Melalui glokalisasi, secara perlahan tapi pasti akan menggerus industri-industri lokal berharga lainnya seperti tenun tangan dan industri lokal rumahan lainnya. Glokalisasi juga menghabiskan banyak waktu untuk meneliti suatu pasar dalam wilayah yang berbeda. Dan apabila hal itu tidak berhasil, maka akan membuang-buang uang perusahaan (Sharma, 2013).                           




















BAB IV
KESIMPULAN

Fenomena glokalisasi yang diterapkan oleh India tidak terlepas dari latar belakang India terdahulu. India merupakan rumah bagi salah satu kebudayaan yang paling kuno di dunia yang telah ada sejak 5000 tahun lalu. India merdeka tahun 1947 dibawah kepemimpinan Mahatma Gandhi yang mengedepankan prinsip non kekerasan dan kemandirian. Kemandirian ekonomi kemudian semakin diatur dan banyak sektor kemudian dibatasi untuk sektor publik. Pemerintahan sosialis di bawah partai Janata kemudian berkuasa di India pada tahun 1977 yang menerapkan kebijakan nasionalisasi perusahaan asing dan mengakibatkan beberapa perusahaan memutuskan untuk keluar dari operasinya di India, salah satunya adalah perusahaan minuman terkemuka Coca-Cola. Pada tahun 1991, generasi pertama dari reformasi ekonomi diperkenalkan dan liberalisasi dimulai dengan meletakkan peran yang lebih besar pada perusahaan swasta. Dengan adanya kebijakan  neo liberation tersebut, Coca-Cola kembali ke India pada tahun 1993 dengan kesepakatan kepemilikan atas merek minuman lokal (cola alternative) Parde Brothers dan jaringan pembotolan, tetapi melalui lanskap budaya dan ekonomi yang berbeda.
Kombinasi antara lokal dan global diaktifkan Coca-Cola untuk mengeksploitasi manfaat dari merek global dan dalam selera tren global, sementara juga memasuki pasar domestik tradisional. Strategi ini dikenal dengan glokalisasi dengan mengambil terma ‘think globally, act locally’. Strategi ini kemudian dijalankan oleh Coca-Cola baik melalui bidang pemasaran yang menyentuh ranah lokal, pemanfaatan tenaga kerja lokal dan tanggung jawab sosial perusahaan dengan berfokus pada masyarakat dan lingkungan terkait. Melalui strategi ini kemudian menobatkan Coca-Cola sebagai salah satu investor internasional terbesar dengan menginvestasikan lebih dari US$ 1 miliar di India terhitung dari 1993 sampai 2003. Namun, terhadap pencapaian ini, banyak juga yang memunculkan kritik terhadapnya. Salah satunya dari para sosialog India yang menilai strategi glokalisasi secara perlahan tapi pasti akan semakin menggerus industri-industri lokal lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Assignment Writers. 2012. Cultural Impact on Business: A Case Study on Coca Cola’s Cultural Issues in India. Available from http://www.assignmentwriters.co.uk/socio-cultural-barriers-faced-by-coca-cola-in-india-and-solutions-to-overcome-the-issues/

Duija, I Nengah. 2005. Tradisi Lisan, Naskah, dan Sejarah. Sebuah Catatan Politik Kebudayaan. Available from http://wacana.ui.ac.id/index.php/wjhi/article/view/296/279
Evans, Tim. 1992. The Globalization of Capitalism: A Celebration of The Triumph of Free Market Sophistication. Available from http://www.libertarian.co.uk/lapubs/socin/socin016.pdf
Faheem, Hadiya. 2009. Coca-Cola India’s Corporate Social Responsibility Strategy. ICMR Center for Management Research, Hyderabad, India. Available from http://oikos-international.org/wp-content/uploads/2013/10/oikos_Cases_2009_Coca_Cola_India.pdf
Fernandes, Semila. 2013. A Case Study Approach On Indian Companies And Global Companies Entry In Foreign Markets – An Analysis Of Glocalization Strategies. Available from http://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/32757139/1120_M.pdf
Kadri, Meena. 2006. Glocal-Cola: Visual Communication of Coca-Cola in Indiaas A Site of Mediation between Global and Local Factors. Available from http://randomspecific.com/wp-content/uploads/2009/03/glocal_cola.pdf
Kaye, Jennifer. 2004. Coca-Cola India. Tuck School of Business at Darmouth. Available from http://mba.tuck.dartmouth.edu/pdf/2004-1-0085.pdf
Luigi, Dumitrescu & Simona, Vinerean. The Glocal Strategy of Global Brands. Available from ftp://ftp.repec.org/opt/ReDIF/RePEc/blg/journl/538dumitrescu%26vinerean.pdf
Ritzer, George. 2011. Globalization: The Essentials. Wiley-Blacwell A John Wiley & Sons, Ltd., Publications.
Robertson, Roland. 2007. The Conceptual Promise of Glocalization: Commonality and Diversity. Available from http://artefact.mi2.hr/_a04/lang_en/theory_robertson_en.htm
Royani, Ade Putri. 2015. Glokalisasi: Belajar dari kearifan lokal masyarakat Kampung Kuta sebagai model pembangunan berwawasan lingkungan. Available from http://blog.unnes.ac.id/adeputriroyani/2015/11/16/glokalisasi/
Sharma, Deepti. 2013. A Study of Glocalization Concept As A Current Trend in Indian Economy. Shri Vaishnav Institute of Management. Available from  http://svimi.org/ejournal/downloads/vol1issue1/10.pdf 
Voice of America (VOA). 2016. Pertumbuhan Ekonomi India lebih Cepat dari China. Available from http://www.voaindonesia.com/content/pertumbuhan-ekonomi-india-lebih-cepat-dari-china/3181880.html
Waghva, Charan D. India Trying to Liberalize: Economic Reforms Since 1991. Available from http://apcss.org/Publications/Edited%20Volumes/RegionalFinal%20chapters/Chapter16Wadhva.pdf







[1] Akuisisi adalah pembelian suatu perusahaan oleh perusahaan lain atau oleh kelompok investor. Akuisisi sering digunakan untuk menjaga ketersediaan pasokan bahan baku atau jaminan produk akan diserap oleh pasar.
[2] merek Coke yang paling terpercaya di India (“Brands of Coca-Cola in India,” Rai University)
[3] Idiom adalah satuan-satuan bahasa (bisa berupa kata, frase, maupun kalimat) yang maknanya tidak dapat diramalkan dari makna leksikal unsur-unsurnya maupun makna gramatikal satuan-satuan tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar