Minggu, 29 Mei 2016

BUDAYA DALAM HUBUNGAN INTERNASIONAL

Haii sahabat HI..
Setelah lama gak ngepost,, kini mau posting lagii..
Semoga bisa menginspirasi kawan-kawan..


BUDAYA DALAM HUBUNGAN INTERNASIONAL
Essay: ‘Chbab Srey’ Sebagai Kunci Bias Gender di Kamboja







WAYAN YULIA SWADEVI
NIM : 1321105006





PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS UDAYANA
2016




‘Chbab Srey’ Sebagai Kunci Bias Gender di Kamboja

            Men are gold, women are cloth. Merupakan sebuah pepatah umum yang menyatakan status ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan pada masyarakat Khmer[1] Kamboja (Khun, 2006). Pepatah tersebut muncul bukan karena tanpa alasan, melainkan terdapat latar belakang mengenai makna yang terkandung di dalamnya. Kamboja memiliki hukum moral tradisional yang diterima oleh masyarakat secara turun-temurun, yaitu aturan bagi kaum perempuan yang disebut Chbab Srey (Chbab = law, Srey = women), dan untuk kaum laki-laki disebut Chbab Pror (Chbab = law, Pror = men). Hukum moral tradisional ini ditulis dalam bentuk puisi oleh Krom Ngoy (1865-1936), yang dianggap sebagai bapak puisi Khmer (Jackson, 2008). Poemcodes yang ditulisnya telah diajarkan di sekolah-sekolah menengah di seluruh negeri, dan diperkuat oleh kepercayaan orang tua dan leluhur dari generasi ke generasi selama berabad-abad (Jackson, 2008). Berikut ini merupakan sepenggal bait puisi yang ditulis oleh Krom Ngoy yang telah diterjemahkan yang menggambarkan Chbab Srey sebagai hukum yang harus dilestarikan karena menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Khmer Kamboja (Mai, 2008).
“ My dearest daughter, no matter how poor you are, follow the woman’s rules
            Don’t be so mean to the neighbor and relative
            Good position and happiness come from women
            Being a woman, no matter what you say, don’t be (leh’lah!) talking not serious, not gentle (Cambodian women are not supposed to talk very much and be shy)
            ….. If you don’t feel afraid of your husband’s feeling and let the other man look down on your husband
            We call you a woman who is lack of good characteristic
…... Don’t bring the outside flame into the house and then burn it (refers not to bringing outside problem into the house)
The inside flame, if you are not careful, you will burn it outside (refers to not taking internal problems to people outside”
Chbab Srey (Women’s Law) ini menunjukkan bahwa perempuan harus melayani dan menghormati suami mereka setiap saat, bagaimanapun keadaannya. Seiring dengan meningkatnya kedewasaan perempuan akan percaya bahwa kekerasan seorang pria adalah ‘normal’ dan dapat diterima secara pribadi (Jackson, 2008). Bagi kaum perempuan Kamboja sendiri, saat ini diskriminasi gender umumnya merupakan hasil dari norma-norma budaya, bukan sebagai mandat legislatif. Terutama di daerah pedesaan, Chbab Srey masih dijalankan sedemikian rupa, dan sikap tunduk perempuan atas laki-laki memberikan kontribusi terjadinya kekerasan dalam rumah tangga yang mengakar dan meluas di negara tersebut (Kounila, 2013). Namun, kemudian muncul pertanyaan bahwa apakah Chbab Srey sebagai alasan bagi kaum perempuan untuk tetap diam dan tidak berani mengungkapkan kasus kekerasan yang dialaminya terutama oleh suaminya, dan bagaimana kedudukan Chbab Srey sebagai bagian dari kebudayaan Kamboja pada era modern ini yang sangat menjunjung tinggi adanya kesetaraan gender.
Perempuan di Kamboja harus mengikuti semua aturan sosial agar menjadi perempuan yang diterima baik oleh masyarakat. Tanpa sesuai dengan kode etik Khmer yaitu Chbab Srey, maka perempuan tidak akan diterima baik oleh keluarganya, kerabat, teman, masyarakat ataupun orang luar. Ledgerwood (1996) menjelaskan aturan perempuan Khmer Kamboja dalam Chbab Srey yaitu perempuan harus diam, tidak banyak bicara dan memiliki sikap yang lemah lembut. Perempuan adalah pemalu dan naïf maka harus dilindungi. Sebelum menikah, idealnya perempuan tidak pernah meningkalkan perusahaan dari anggota keluarganya. Pada saat yang sama perempuan diharapkan untuk menjadi kuat dan mampu menjalankan rumah tangga, termasuk menangani semua keuangan keluarga. Menurut Ledgerwood, cita-cita budaya mengandung sebuah kontradiksi yang sangat melekat. Di masa lampau hal ini mencerminkan harapan budaya pada waktu yang berbeda dalam kehidupan perempuan. Pada satu sisi sebagai perempuan bahwa dia harus malu dan harus dilindungi. Tetapi disisi lain, perempuan mengalami pelecehan atau kekerasan bahkan dari suaminya (Ledgerwood, 1996).  
Sementara Klaassen (1995) menyebutkan beberapa aturan mengenai perilaku bagaimana seorang suami harus memperlakukan istrinya. Perempuan diwajibkan untuk memainkan empat peran dalam kehidupan suaminya; ia harus menjadi ibu, kakak perempuannya, temannya, dan pelayannya. Perempuan harus selalu menghormati suaminya dan merawatnya. Jika suaminya marah, maka perempuan harus bersabar dan tidak berbicara kembali. Jika suaminya mengalahkan dia, dia tidak boleh membela diri dengan mengalahkan kembali. Seorang perempuan harus sopan terhadap orang yang lebih tua dan harus mengundang tetangganya untuk datang ke rumahnya setiap kali dia melihat mereka. Ketika terdapat masalah dalam keluarga atau ketika dia memiliki masalah pribadi, dia harus menahan diri dan tidak membiarkan orang lain tahu tentang dirinya/keluarganya atau mendiskusikan dirinya/keluarganya dengan seseorang di luar rumah (Klaassen, 1995).
Chbab Srey memang belum pernah secara resmi dimasukkan ke dalam hukum nasional, namun pengaruh budaya ini tersebar luas, mengakar, hingga sampai diajarkan di sekolah-sekolah dasar (CCHR, 2013). Chbab Srey yang menjabarkan seperangkat aturan dan prinsip-prinsip bagi kaum perempuan, dan mendorong rasa hormat perempuan terhadap keinginan suami, berpengaruh sedemikian kuat dan melekat pada kehidupan perempuan Khmer di Kamboja. Chbab Srey dipercaya sebagai representasi dari kebudayaan Khmer sehingga harus dilestarikan kegunaan dan pelaksanaannya (Grace and Eng, 2015). Karena berdasar pada kepercayaan inilah, tak ayal Chbab Srey menjadi bumerang bagi kaum perempuan di Kamboja dalam menghadapi berbagai diskriminasi pada banyak bidang dalam kehidupan mereka. Mulai dari akses terhadap pendidikan, fasilitas kesehatan yang tidak pantas dan tidak memadai, pilihan yang terbatas untuk pekerjaan, sedikit atau bahkan tidak memiliki suara dalam urusan publik, sedikit keterlibatan dalam keluarga atau pengambilan keputusan di masyarakat, serta kekerasan atau pelecehan seksual kerap dialami oleh perempuan di Kamboja. Tiga jenis umum dari kekerasan berbasis gender ini adalah pemerkosaan (rape), perdagangan manusia (human trafficking), kekerasan dalam rumah tangga (domestic violence) (Jackson, 2008).
Diskriminasi perempuan dalam bidang pendidikan di Kamboja dapat dilihat melalui berbagai kesenjangan antara kaum laki-laki dan perempuan. Yaitu, pertama adalah gagasan orang tua yang berbasis tradisional (stereotype) terhadap anak laki-laki dan anak perempuan. Orang tua menganggap bahwa anak laki-laki lebih penting daripada anak perempuan, dan memandang bahwa anak laki-laki akan pergi bekerja keluar, sedangkan anak perempuan harus tinggal di rumah dan mengambil alih pekerjaan rumah tangga. Dengan demikian, mayoritas orang tua merasa sia-sia untuk membiarkan anak perempuan mereka mendapatkan pendidikan tinggi (Khun, 2006).
  Chbab Srey terbilang memiliki kedudukan yang kuat dalam bidang pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah di Kamboja. Sebuah hasil survey menunjukkan evaluasi kesetaraan gender di sekolah-sekolah menengah di Siem Reap (sebuah kota kecil di Kamboja) bahwa antara 93-97 persen guru dan 76-79 persen siswa setuju dengan pernyataan “Chbab Srey harus diajarkan kepada semua siswa”, “Chbab Srey sebagai representasi budaya Khmer”, dan “perempuan yang baik adalah mereka yang mengikuti dan menghormati Chbab Srey”. Para guru bahkan berkomentar bahwa siswa diajarkan untuk mengikuti dan menghafal aturan dari Chbab Srey ini, bukan sebaliknya untuk mengkritiknya (Grace and Eng, 2015).
Faktor kedua terjadinya diskriminasi kaum perempuan dalam bidang pendidikan adalah bahwa anak perempuan dibutuhkan di rumah atau bekerja di ladang dibandingkan mengenyam pendidikan di sekolah. Faktor ini selain menyangkut kebutuhan pendidikan juga terkait masalah bias gender dalam bidang ekonomi dan pekerjaan bagi kaum perempuan di Kamboja. Sekitar 80% penduduk Kamboja berprofesi sebagai petani yang mayoritas masih menerapkan cara-cara bertani tradisional, sehingga mereka membutuhkan banyak tenaga kerja untuk membantunya dalam bidang pertanian. Pada masyarakat Kamboja, seperti dilansir dari Forum LSM di Kamboja, sekitar 65 persen tenaga kerja pertanian dan 75 persen produksi perikanan berada di tangan perempuan. Sehingga, para orang tua kemudian berpikir bahwa, pendidikan formal tidak begitu penting, dan mungkin akan membiarkan anak perempuan mereka untuk belajar beberapa keterampilan atau pergi ke kota untuk bekerja sebagai buruh pabrik garmen atau sebagai pembantu rumah tangga (Khun, 2006).
Terlepas dari bidang pendidikan, ketidaksetaraan gender juga dialami perempuan Kamboja dalam akses kesehatan. Berdasar pada kebudayaan orang tua masyarakat Kamboja, percaya bahwa menyusui bayi perempuan terlalu lama dapat mengakibatkan anak-anak mereka keras kepala ketika tumbuh dewasa. Klaassen (1995) mengungkapkan bahwa terdapat kecenderungan masyarakat Kamboja untuk menyusui anak laki-laki lebih lama dibandingkan anak perempuan. Secara tradisional, mereka berpikir bahwa perempuan menjadi keras kepala atau sangat bergairah jika disusui terlalu lama. Sedangkan jika anak laki-laki tidak disusui cukup lama, maka akan menjadi terlalu pucat (Klaassen, 1995). Berdasarkan hal tersebut, terlihat jelas bahwa diskriminasi perempuan Kamboja telah dialami dari sejak kecil yang lebih banyak dipengaruhi oleh sistem kepercayaan dan kebudayaan terun temurun.
Kontruksi identitas gender dan seksualitas menggambarkan perempuan sebagai seorang yang bodoh dan malu atas tubuh mereka. Rasa kepercayaan ini kemudian dikombinasikan dengan kurangnya tenaga kesehatan dari kaum perempuan dan preferensi pengobatan hanya oleh apoteker. Hal ini kemudian menyebabkan masalah ginekologi[2] pada kaum perempuan tidak diobati atau diperlakukan secara tidak benar di Kamboja (Gorman, et al, 1999). Terkait dalam bidang kesehatan juga diungkapkan bahwa, kontrol perempuan atas tubuh mereka dan pilihan reproduksi masih sangat tergantung pada hubungan kekuasaan dalam rumah tangga. Keperawanan dan kesetiaan perkawinan merupakan persoalan krusial terkait dengan persepsi seorang perempuan yang saleh, yang sebagian akan menentukan status sosial perempuan. Seksualitas seorang perempuan dikontrol ketat, pertama oleh orang tuanya dan kemudian oleh suaminya. Kaum perempuan di Kamboja dibawah pengaruh Chbab Srey juga memiliki sedikit kekuatan dalam menegosiasikan hubungan seksual dengan suami mereka, termasuk pemilihan atas jenis alat kontrasepsi (Gorman, et al, 1999).
 Perempuan disabilitas atau penyandang cacat juga tidak lepas dari perlakuan diskrimasi dibandingkan kaum disabilitas laki-laki di Kamboja, dan mereka hampir tidak akan memiliki kesempatan untuk menikah (Larsson, 1996). Bagi perempuan disabilitas atau penyandang cacat yang telah menikahpun, harus menerima resiko ditinggalkan oleh suami mereka. Dibandingkan dengan laki-laki penyandang cacat, perempuan penyandang cacat kurang memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan ataupun memperoleh akses kesehatan dan pekerjaan yang layak (Khun, 2006).
Hal yang sama terkait dalam bidang kesehatan juga terjadi pada perempuan yang terinfeksi virus HIV/AIDS. Mereka akan mengalami diskriminasi oleh keluarga, teman, kerabat, tetangga dan mayarakat yang menganggap mereka sebagai orang yang paling mengerikan dalam masyarakat (Larsson, 1996). Sedangkan di sisi lain, kaum laki-laki justru diperbolehkan untuk mengunjungi tempat pelacuran yang beresiko tinggi tertular virus HIV/AIDS. Fenomena ini menjadi bagian dari budaya yang berkembang di kalangan remaja laki-laki sebagai ajang bersosialisasi dalam kelompok (Gorman, et al, 1999).
Beralih pada bidang politik, Chbab Srey juga secara langsung akan menghalangi peran dan representasi (perwakilan) perempuan Kamboja dalam kekuasaan dan pengambilan keputusan (Khun, 2006). Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, perempuan harus berdiam diri dalam segala macam situasi. Mereka tidak diijinkan untuk membuat keputusan atau bahkan mengambil kendali kekuasaan. Dampak dari peran gender tradisional ini telah berpengaruh terhadap pandangan bagi politisi perempuan di Kamboja. Secara umum, dari tahun 1980-an hingga sekarang, jumlah partisipasi perempuan dalam politik Kamboja masih tetap rendah, dan mereka kurang terwakili dalam posisi tingkat tinggi baik di tingkat lokal dan nasional pemerintah (Ebihara and Ledgerwood, 2002). Dalam sebuah studi tahun 2009 mengenai partisipasi politik umum perempuan dapat ditemukan bahwa 37 persen dari pandangan responden laki-laki menyatakan inferioritas perempuan, dan 62 persen perempuan berpikiran untuk menjadi perempuan lemah lembut seperti yang diharapkan dari esensi Chbab Srey (CCHR, 2013). Pada tahun 2012 dalam wawancara dan diskusi kelompok yang dilakukan oleh CCHR (Cambodian Center for Human Right), mendapatkan fakta bahwa sekitar 50 persen dari informan sepakat bahwa perempuan paling cocok untuk pekerjaan rumah tangga, dan banyak yang merasa bahwa perempuan tidak cukup berani atau memiliki beberapa alasan untuk takut terlibat dalam sektor politik (CCHR, 2013).  Namun terbilang sejak tahun 1993 telah terjadi kenaikan moderat dalam partisipasi perempuan Kamboja termasuk kepemimpinan dalam organisasi non-pemerintah yang berfokus pada isu-isu dan hak-hak perempuan (Ebihara and Ledgerwood, 2002). 
Status sosial perempuan di Kamboja benar-benar menjadi perhatian serius. Budaya Kamboja yang sangat ketat dan hirarki memberikan nilai lebih untuk kaum laki-laki (Khun, 2006). Aturan dalam Chbab Srey mendorong perempuan untuk menjaga keseimbangan kekuasaan di rumah dan mentolerir perilaku buruk yang didominasi oleh kaum laki-laki yang bertentangan dengan ide-ide pemberdayaan dan kesetaraan (Grace and Eng, 2015). Berbagai tindak kekerasan dan pelecehan seksual pun kerap dialami oleh perempuan di Kamboja. Namun, kekerasan terhadap kaum perempuan ini umumnya tidak dilihat sebagai sesuatu yang ‘salah’ dalam masyarakat Khmer dan sikap ini diperburuk oleh adanya perang saudara (1967-1975). Selama bertahun-tahun cara yang dilakukan untuk menyelesaikan konflik adalah melalui kekerasan, baik dalam rumah tangga keluarga, atau dalam masyarakat secara keseluruhan (Jackson, 2008). Dalam survey tahun 2003 mengenai pandangan terhadap pemerkosaan di kalangan anak muda menunjukkan bahwa hanya 13 persen responden yang melihat pemerkosaan sebagai perbuatan yang ‘salah’. Demikian pula pada survey 2005 yang dilakukan oleh Kementerian Perempuan, 23 persen perempuan mengatakan bahwa suami mereka telah melakukan kekerasan fisik baru-baru ini, dan banyak yang meremehkan kasus kekerasan ini yang kemudian membuat banyak kasus tidak dilaporkan (Jackson, 2008). Kekhawatiran tentang dampak dari Chbab Srey pada hubungan gender tercermin pula dalam hasil survey yang dilakukan oleh USAID. Penilaian gender USAID menemukan bahwa 47 persen pria dan 51 persen wanita percaya bahwa perempuan dan laki-laki memilki hak yang berbeda, termasuk dalam hal bisnis, pengambilan keputusan, sosial dan kebebasan seksual dan kebebasan bergerak (CCHR, 2013).
Dalam mempromosikan kesetaraan gender, utamanya bagi masyarakat Khmer Kamboja, sangat penting untuk memperkuat empat pilar, yaitu pengetahun dan pemahaman gender, komitmen untuk bertindak dalam menghilangkan disparitas gender, data yang akurat dan up-to-date serta analisis untuk pengambilan kebijakan, dan anggaran khusus untuk pelaksanaan kebijakan (Khun, 2006).  Dalam cakupan domestik, Ministry of Women’s Affair (MoWA) dalam rangka penegakan hukum yang efektif dari Platform  Royal Government of Cambodia, bertindak sebagai fasilitator, koordinator advokasi dan memantau kebijakan dan program untuk mempromosikan status perempuan. MoWA didelegasikan untuk berkontribusi memajukan gender melalui pembuatan kebijakan yang responsif; partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan dalam semua tingkatan; pemberdayaan ekonomi perempuan; program terhadap segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan pengembangan hukum terkait serta penegakan hukum; dalam bidang kesehatan termasuk kesehatan reproduksi dan pencegahan HIV/AIDS serta gizi perempuan dan anak-anak; peningkatan partisipasi anak perempuan dalam pendidikan dan perempuan dalam program keaksaraan; serta implementasi nilai-nilai sosial yang kuat (Khun, 2006).
Dalam cakupan internasional, Kamboja juga telah meratifikasi perjanjian internasional termasuk Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Againts Women (CEDAW) pada tahun 1992 (Final Report, 2007). CEDAW berkomitmen pada negara untuk mengatasi ketidaksetaraan gender dalam hal politik, ekonomi, lingkungan sosial sipil serta dalam kehidupan budaya dan keluarga. Namun, CEDAW belum dipublikasikan dalam Berita Resmi Kerajaan Kamboja, dan banyak dari para hakim dan pejabat hukum tidak menyadari keberadaannya (Final Report, 2007). Selanjutnya, Konstitusi 1993 menegaskan perlindungan penuh dari hak-hak perempuan. Perlindungan mencakup hak persamaan di depan hukum (Art. 31) dan larangan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan (Art. 46) (Final Report, 2007).
Adanya pengakuan ini menjadikan masalah status hukum lebih jelas. Perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki di bawah hukum Kamboja saat ini karena telah berada dibawah naungan Konstitusi. Sejak pemilu tahun 1993, terdapat bentuk baru dari partisipasi politik perempuan dalam bentuk organisasi non pemerintah. Seperti misalnya LSM yang berfokus pada isu perempuan termasuk kekerasan dalam rumah tangga, pelatihan kerja bagi perempuan, KB dan kesehatan perempuan, prostitusi dan pendidikan (Ebihara and Ledgerwood, 2002).
Dalam upaya mencapai kesetaraan gender di Kamboja baik pemerintah, organisasi lokal maupun internasional telah memainkan peran mereka dalam mempromosikan kesetaraan gender di Kamboja. Namun, apa yang mereka lakukan tidaklah cukup sampai disana saja. Karena melihat fakta bahwa Kamboja adalah negara miskin, pemerintah tidak benar-benar membiayai semua perhatian untuk isu-isu gender, tetapi mereka lebih berfokus pada pengembangan ekonomi dan politik dalam negeri dan regional (Khun, 2006). Berdasarkan data dari World Bank, 35 persen dari populasi di Kamboja hidup di bawah garis kemiskinan, sehingga merupakan suatu pekerjaan yang sulit untuk mempromosikan hak-hak perempuan dalam konteks mencapai kesetaraan gender, karena mereka hanya berfokus untuk hidup mereka (Khun, 2006).
Sebagai bagian akhir dari tulisan ini, mencakup inti dari permasalahn bahwa masyarakat Kamboja yang sangat konservatif dengan sistem yang hirarki dan kukuh mempertahankan budaya tradisionalnya dalam hal ini Chbab Srey, pada akhirnya mempromosikan gender layaknya seperti mengubah identitas budaya mereka, yang sebagian besar dari mereka bersikap menentang (Khun, 2006). Sebagai solusi, pemerintah harus memperkenalkan beberapa reformasi untuk sektor pendidikan, peningkatan pelayanan kesehatan. Selain itu pemerintah juga diharapkan untuk mengembangkan pendidikan non-formal mengenai kesehatan reproduksi seksual dan kesadaran gizi bagi penduduk desa. Pemerintah juga berupaya untuk mendorong perempuan untuk turut mengambil bagian dalam kegiatan sosial atau politik. Serta pemerintah diharapkan sebagai mentor dalam membuat dan menegakkan hukum yang mempromosikan kesetaraan gender.



















Daftar Pustaka

Cambodian Center for Human Rights. (2013, March). Politics in The Kingdom: Increasing Female Representations. Retrieved from http://www.cchrcambodia.org/admin/media/report/report/english/2013_03_28_CCHR_Report_eng.pdf
Ebihara, May., Ledgerwood, Judy. 2002. Summary: Women in Cambodian Society. Retrieved from http://www.seasite.niu.edu/khmer/ledgerwood/women.htm
Final Report. (2007, May). CAMBODIA: Country Gender Profile. Retrieved from http://www.jica.go.jp/english/our_work/thematic_issues/gender/background/pdf/e07cam.pdf
Gorman, S., Dorina, P., Kheng, S. (1999). Gender and Development in Cambodia; An Overview. Retrieved from http://www.cdri.org.kh/webdata/download/wp/wp10e.pdf
Grace, K., Eng, S. (2015, June 9). There Is No Place for ‘Chbab Srey’ in Cambodian School. Retrieved from https://www.cambodiadaily.com/opinion/%C2%ADthere-is-no-place-for-chbab-srey-in-cambodian-schools-85230/
Jackson, Tobias. (2008). CAMBODIA; Justice for Girls and Women. Oxfam News E-magazines. Retrieved from http://www.oxfam.org.hk/content/616/one200806.pdf
Khun, Kaesa. (2006). Gender Issues in Cambodia. Retrieved from http://www.cct.go.kr/data/acf2006/aycc/aycc_1105_Keasa%20Khun.pdf
Klaassen, Hanneke. (1995). Cambodian women in socio-economic transition. Citation from Gender Issues in Cambodia, author(s) by kaesa Khun (2006). Retrieved from http://www.cct.go.kr/data/acf2006/aycc/aycc_1105_Keasa%20Khun.pdf
Kounila, Keo. (2013, March 8). A final note: trying to be a perfect woman. Retrieved from http://www.phnompenhpost.com/7days/final-note-trying-be-perfect-woman
Larsson, Katarina. (1996, December). Country Gender Profile: CAMBODIA. Retrieved from http://www.sida.se/contentassets/8662144b62b245f7949230083feca05f/country-gender-profile-cambodia_611.pdf
Ledgerwood, Judy. (1996). Women in Development: Cambodia. Citation from Gender Issues in Cambodia, author(s) by Kaesa Khun (2006). Retrieved from http://www.cct.go.kr/data/acf2006/aycc/aycc_1105_Keasa%20Khun.pdf
Mai. (2008). CHBAB SREY, code of conduct of Cambodian women. Retrieved from http://carpediemilia.over-blog.com/article-21656482.html









[1] Khmer adalah kelompok etnis dominan di Kamboja, terhitung sekitar 90% dari keseluruhan populasi Kamboja.
[2] Ginekologi adalah cabang ilmu kedokteran yang khusus mempelajari penyakit-penyakit sistem reproduksi wanita (rahim, vagina dan ovarium).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar